Senin, 16 Januari 2012

TARI EMPRAK SIDO MUKTI

Tari  Emprak Sido Mukti di Desa Kepuk Kecamatan Bangsri Kabupaten Jepara. Kesenian Emprak termasuk kesenian Slawatan, karena menurut (Kuntowijoyo, 1986/1987:11) disebut kesenian Slawatan karena menggunakan Barzanji sebagai sumbernya. Kitab Barzanji adalah sebuah kitab yang dikarang oleh Ja’far Al Barzanji (Kuntowijoyo, 1987:45). Kitab Barzanji selaijn berisi bacaan Slawatan juga berisi kisah-kisah tentan Nabi Muhammad SAW, tetapi yang terpenting adalah syair-syair yang memuni kepribadian dan akhlakul karimah atau budi utama Nabi Muhammad (Kuntowijoyo, 1987:11).TariK Emprak Sido Mukti tergolong sebagai kesenian Islami, karena didalamnya terdapat misi keagamaan, yaitu agama Islam. Kesenian Islam merupakan sarana dakwah disamping sebagai sarana hiburan dan sarana komunikasi (Moeshadi, 1989:6).Agama Islam yang mendominasi masyarakat Jepara sangat mendukung kesenian Emprak ini. Dengan mayoritas agama Islam berarti lebih banyak kemungkinan yang mendukung kesenian Emprak. Karena dukungan masyarakat yang lebih banyak akan memungkinkan adanya usaha-usaha menuju ke arah pengembangan
Kemajuan dan partisipasinya yang telah dicapai sekarang ini merupakan hasil dari usaha yang telah dilakukan oleh Pemerintah Daerah maupun masyarakat pendukung yang mengupayakan bagi pengembangan kesenian Emprak. Karena itulah yang mendorong penulis untuk mengetahui upaya apa yang telah dilakukan oleh Pemerintah daerah maupun oleh masyarakat, pendukung serta faktor pendukung dalam pengembangan kesenian Emprak di Kabupaten Jepara

Asal Mula Kesenian Emprak Sido Mukti

Menurut Kasturi, (67 tahun) (pemimpin kelompok seni Emprak desa Kepuk) menjelaskan bahwa munculnya seni Emprak berawal dari sekelompok seniman yang mbarang jangrung (mengamen tarian keliling), dan pertunjukan dari satu tempat ke tempat lainnya.Ketika sedang berkeliling bertemu dengan seorang “Kyai” (sebutan tokoh dalam agama Islam) dengan beberapa orang santrinya yang sedang mengadakan perjalanan dalam rangka menyiarkan agama Islam. Dijelaskan oleh Kasturi juga, dalam pertemuan antara kelompok mbarang jangrung dengan Kyai beserta para santri akhirnya terjadi kesepakatan untuk melanjutkan perjalanan bersama-sama. Agar masyarakat lebih mudah untuk dipengaruhi dan mengikuti ajaran agama islam.Setiap pementasan Kyai dan para santrinya dapat menyelingi ceramah agamaa Islam sehingga seniman mbarang jangrung juga dapat  belajar agama Islam dari Kyai dan para santri. Atas inisiatif dari Kyai dan seniman dijadikan kelompok baru dan diberi nama “Emprak”. Kata Emprak berasal dari kata amar ma’ruf yang berarti mengajak kepada kebaikan. Menurut Ahnan M 1993: 363, Pementasan seni Emprak selalu diselipkan nasehat-nasehat untuk berbuat kebaikan. Tanpa menyebutkan sumber yang pasti, ada yang menceritakan Emprak diambik dari kata Imro’ah yang berarti wanita. Munculnya cerita tersebut karena didukung oleh kenyataan dalam pementasan seni Emprak di Jepara banyak menceritakan kehidupan wanita di pedesaan.Menurut Warih (39 tahun) seorang pemain Emprak mengatakan nama Emprak diambil dari alat yang selalu digunakan pada setiap pementasan. Alat yang dimaksud adalah Goprak (bambu yangpanjang kira-kira 50 cm), pada satu sisi ujungnya dipecah-pecah bila dipukulkan akan menimbulkan bunyi Prak.
Kesenian Emprak Sida Mukti didirikan atas inisiatif kepala desa pada tahun 1980 karena warga masyarakat khususnya laki-laki suka melakukan kebiasaan buruk yaitu Upluk (judi dadu). Melihat segi negatif yang dilakukan oleh masyarakat desa Kepuk selaku kepala desa Soemoronggeng berkeinginan untuk memberantas kebiasaan judi tersebut, karena dianggap dapat merugikan masyarakat. Akhirnya Soemoronggeng bersama beberapa tokoh masyarakat bermusyawarah untuk mencari jalan keluarnya, dengan cara meningkatkan frekwensi pendidikan keagamaan dan pengarahan-pengarahan melalui pementasan dalam berbagai hiburan. Selaku seniman Emprak Kasturi mendapat tugas untuk menghidupkan kegiatan kesenian di desa Kepuk Cerita yang dibawakan adalah tentang kehidupan masyarakat pedesaan yang penduduk Kepuk alami dan bahasa yang digunakan dialek daerah setempat dengan bahasa Jawa ngoko, agar mudah dipahami dan dimengerti. Pementasan pertama seni Emprak dipentaskan pada seorang tetangga Kasturi yang punya hajat menikahkan anaknya, dengan motivasi dan tujuan mengenalkan pada masyarakat untuk menonton sehingga banyak yang datang hanya menonton saja atau sekalian buoh (menyumbang).Kesenian Emprak Sida Mukti di desa kepuk dianggap paling baru dibanding dengan seni Emprak yang ada di daerah sekitar Kepuk, tetapi perkembangannya jauh lebih baik dari seni Emprak yang lain. Terbukti banyak pesanan untuk pentas, hingga seni Emprak yang lain tidak berkembang atau punah. Kesenian Emprak Sido Mukti di Kepuk muncul sekitar tahun 1980 yang dipimpin oleh Kasturi, pemain Emprak desa Plajan kemudian menikah dengan seorang warga desa Kepuk dan mendirikan kelompok seni Emprak yang masih tumbuh dan berkembang sampai sekarang (tahun 2007).

Struktur Penyajian Kesenian Emprak Sido Mukti

1) Pra Pertunjukan
Sebelum para pemain berhias diadakan upacara membaca doa – doa agar pementasan dapat berlangsung dengan aman, tertib dan lancar tanpa adanya halangan serta rintangan apapun juga. Upacara tersebut dipimpin oleh sesepuh atau ketua
perkumpulan. Dalam upacara ini diadakan sesaji dan disertai pembacan do’a sampai selesai. Do`a yang dibaca sebagai berikut.
“Para sederek ingkang sami rawuh, mangga dipun sekseni, dinten …. punika (disebut …. harinya) Bapak ibu sederek …. (disebut nama orang yang punya hajat) nggadahai hajat saperlu …. (disebutkan keperluannya). Anggenipun gadah hajat perlu kormat bapak Adam, ibu Hawa, bapak kawasa ibu pertiwi, kawitan serta pungkasan. Kormat Kanjeng nabi saha sahabatipun sekawan, Abu Bakar, Ali bin Abi Tholib, Umar bin Khothob, Usman bin Affan. Pramilo sedoyo dipun kormat supados saget mbiyantu anggenipun bapak/ibu sederek … (orang yang punya hajat) gadah gajat …. (keperluannya). Setunggal bab malih anggenipun gadah kajat ugi kormat kaki danyang miwah nim, danyang ingkang mbaurekso dusun …. mriki. Kormat ugi dateng bambang pengalas saha brayatipun, pramilo sedoyo dipun kormat ugi supados mbiyantu kajatipun bapak/ibu/sederek … (orang yang punya hajat). Setunggal bab malih perlu kormat suryo lan sasi, dinten pitu pekenan gangsal. Absa penjawab kulo mugi slamet sedoyo.
Jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia (terjemah bebas oleh penulis) berarti sebagai berikut: Saudara-saudara yang hadir di sini, mohon supaya disaksikan. Pada har ini (disebut nama harinya) bapak/ibu/saudara …. (orang yang punya hajat) memiliki hajat …. (jenis hajatnya). Beliau punya hajat perlu menghormati bapak Adam, ibu Hawa, Gusti yang menguasai dunia, nabi pertama dan terakhir, menghormati Nabi Muhammad dan para sahabatnya yang berjumlah empat: Abu Bakar, Ali bin Abi Tholib, Umar bin Khothob, Usman bin Affan. Semua dihormati agar dapat membantu bapak/ibu/saudara …. (nama yang punya hajat) kecuali juga menghormati penguasa desa …. (disebut nama desanya), menghormati bambang pangalasan dan para pengikutnya. Semua dihormati pula supaya dapat membantu bapak/ibu/saudara …. (nama yang punya hajat). Terakahir perlu menghormati tanggal dan bulan, hari-hari yang berjumlah tujuh dan hari-hari yang berjumlah 5, kiranya syah apa yang saya ucapkan semoga semuanya dapat selamat.
2) Inti Pertunjukan
Ada empat babak dalam pertunjukkan kesenian Emprak Sido Mukti. Adapun empat babak tersebut adalah :
(1) Tari-tarian pembuka yang dilakukan oleh empat penari putra dilanjutkan dua penari putri sebagai ledeknya menari dan menyanyi,
(2) Adegan Roman, yaitu adegan yang menggambarkan para penari putra sedang merayu penari putri, meskipun tidak mendapatkan tanggapan yang menyenangkan,
(3) Adegan Gunani , yaitu adegan yang menggambarkan upaya penari putra yang menggunakan cara guna – guna untuk mendapatkan penari putri dan
(4) Adegan Rombyong Mantu yaitu adegan yang menggambarkan penganten putri dibawa pulang ke rumah penganten putra.
3) Akhir Pertunjukkan
Setelah babak ke empat selesai, berakhirlah seluruh pementasan Emprak yang diakhiri tampilnya salah satu seorang anggota perkumpulan untuk menyampaikan kepada penonton bahwa pertunjukkan telah selesai.

Elemen-elemen yang menunjang Pementasan Kesenian Emprak Sido Mukti.

1) Jalan Cerita
Dikisahkan bahwa di suatu desa di wilayah Kabupaten Jepara hiduplah sepasang suami istri yang bernama Bapak Ibu Sudi. Pak Sudi mata pencahariannya atau pekerjaannya adalah bertani. Di samping itu, di juga berjualan pisang di pasar
sebagai pekerjaan sambilan sehingga dia juga terkenal dengan panggilan Pak Sudi Pisang. Kehidupan Pak Sudi sekeluarga cukup berhasil, hal ini dapat dilihat dari keberhasilan anak tunggalnya yang bernama Pujianto yang telah menyelesaikan kuliahnya di kota menyandang gelar sarjana pertanian. Sebagai pemuda yang baru lulus sarjana pertanian, Pujianto ingin kembali ke desanya untuk membangun desanya dengan ilmu yang dimilikinya, terutama ingin memajukan pertanian di desanya. Keinginan Pujianto itu ternyata didukung oleh kedua orang tuanya, maka mantaplah hati Pujianto dalam memenuhi keinginan hatinya itu.
Waktu terus berjalan, sebagai pria yang sudah cukup dewasa Pujianto jatuh cinta pada gadis teman sedesanya yang bernama Susi. Pada suatu kesempatan, saat Susi sedang bermain dengan teman sebayanya yaitu Rini, datanglah Pujianto menghampiri dan bermaksud ikut bergabung bermain. Mengetahui kehadiran Pujianto, Rini menggoda Susi, karena mengetahui Pujianto menaruh hati pada Susi. Kemudian Rini akhirnya meninggalkan Susi dan Pujianto menyampaikan isi hatinya kepada Susi. Namun Susi menolak cinta Pujianto karena Susi sudah jatuh cinta pada pria lain. Pujianto yang tidak menyangka cintanya ditolak oleh Susi, hatinya menjadi gundah, kecewa dan bingung Pak Sudi dan Bu Sudi juga merasakan kepedihan anaknya yang semata wayang itu. Maka mereka berusaha agar anaknya bahagia degan mengambil jalan pintas, kedua orang tua Pujianto, mendatangi orang pintar untuk mencari guna-guna agar Susi mau dengan Pujianto.
3) Iringan
Suatu gerakan tari akan harmonis dan bisa dinikmati apabila didukung oleh suatu irama atau irigan sebagai pendukung suasana. Dalam pementasan kesenian Emprak Sido Mukti iringan sangat mendukung. Tanpa adanya iringan, pertunjukkan tidak dapat dilaksanakan.Kesenian Emprak Sido Mukti merupakan bagian dari kesenian tradisional yang mewariskan dan bernafaskan budaya Jawa didominasi dari instrumen Jawa sangat terasa dalam irama pengiring gerak tarian yang dibawakan oleh penari. Adapun alat musik yang dipakai untuk mengiringi para penari dalam kesenian Emprak Sido Mukti, antara lain Kendang, Terbang, Demung, Slentem, Gong dan Geprak, yang dikemas dalam beberapa iringan.
4). Tata Rias
Tata rias dalam pementasan kesenian Emprak Sido Mukti merupakan pendukung yang harus ada karena dapat memberikan keindahan sesuai dengan karakter atau perwatakan. Tujuan dari tata rias untuk membantu mengespresikan muka penari sesuai peran yang akan dibawakan oleh penari. Rias bukan sekadar merubah wajah dan penampilan saja tetapi membuat atau mewujudkan wajah dan penampilan yang sesuai dengan peran yang dibawakan.
5). Kostum
Kostum penari kesenian Emprak Sido Mukti cukup sederhana. Untuk penari putra mengenakan baju panjang ditambah dengan rompi, celana longgar / komprang sebatas lutut, jarik, sabuk dan kopyah. Sedangkan penari putri mengenakan baju lengan pendek, kain jarik / jarit, sampur, sabuk, di bagian kepala mengenakan konde dan jepit penghias rambut.
6). Lagu
Dalam membahas struktur penyajian kesenian Emprak Sido mukti di desa Kepuk, peneliti mengamati bahwa untuk menghangatkan suasana pementasan, sesekali pemusik membuat trick, ketika pembawa acara menyampaikan lagu – lagu yang akan dinyanyikan oleh ledek. Trick yang dimaksud adalah permainan instrumentalia berirama rock dengan panjang melodi menyesuaikan ledek sampai nada posisi siap tampil. Kemudian setelah itu biasanya ledek mengajak dialog dengan para penonton barang sejenak secara basa – basi demi semaraknya pementasan. Begitu ledek smpai pada saat menyebut judul lagu yang akan dinyanyikan baik memenuhi permintaan penonton, atau menurut pilihan ledek sendiri, ketukan pemain melodi sebagai isyarat bahwa intro lagu yang dimaksud segera dimulai.
Intro lagu, model irama, tempo, interlude, ending, bahkan ampai nada dasar, pada umumnya para pemai musik meniru seperti bentuk lagu aslinya. Hanya kadang – kadang perlu menurunkan nada dasar terutama bagi ledek yang memang dipandang tidak sanggup membawakan sesuai dengan nada aslinya, seperti disampaikan Sudirun ( 34 tahun ), pemain melodi pada kesenian Emprak usai pementasan kesenian Emprak di rumah Bapak Suharman dalam acara khitanan anaknya pada tanggal 29 April 2007 di desa Sekuro.Menurut pengamatan penulis, lagu – lagu yang disajikan dalam setiap pentas kesenian Emprak Sido Mukti tidak terbatas pada lagu – lagu terbaru saja, tetapi juga lagu – lagu lama yang masih disenangi atau digemari sampai sekarang, seperti lagu Mandi Madu, Rembulan Malam, dan Colak-colek.


sumber:  http://wahidfurniture.blogdetik.com/2011/11/17/kesenian-jepara/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar